“ Go
to the peoples, Stay with them, learn from them, and work with them”
(Anonim)
| HAERUL MA'RUF |
“ kunjungilah masyarakat, tinggallah bersama mereka,
belajarlah dari mereka, dan bekerjalah bersama mereka”. Kalimat ini adalah terjemahan dari mutiara kata
klasik yang dikutip di atas, yang sering diingatkan para fasilitator pemberdayaan masyarakat. Patut kita ucapkan terima kasih kepada entah siapa yang
mula-mula mencetuskan kata-kata yang sarat makna tersebut.
Kata-kata tersebut berpesan bahwa bila kita mau memberdayakan masyarakat, jangan sokjagoan, dating kepada mereka bak seorang dosen yang
ingin mengajar sesuatu hal kepada mahasiswanya. Bakpahlawan yang dating ingin menyelamatkan korban – menganggap diricerdas dan memposisikan mereka bodoh. Kenyataan bias sebaliknya. Mereka itu mempunyai kearifan. Justru kita yang
harus belajar dari mereka. Oleh karenanya apabila kita ingin membawa ide “perubahan” untuk membantu masyarakat,
must be carefull (paralluki ati-ati, bahasa bantaeng ces..).
pelajarilah baik-baik masyarakat itu. Jangan jadikan mereka sebagai objek, tetapi sebaliknya pandanglah mereka sebagai subjek pelaku yang akan melakukan ide perubahan. Ide perubahan perlu diterjemahkan kedalam bahasa mereka, dengan kearifan mereka, lalu kita aktualkan ide
tersebut bersama mereka. Masyarakat adalah mitra bahkan pemangku kepentingan. Begitulah kira-kira pesan yang kita pelajari selama ini. WallahuA’lam, sudahkah kita melakukannya?
(maaf bukan seorang pemandu yang bertanya…!).
Kalau dilakukan itu sudah bagus. Namun akan lebih bagus lagi kalau memberdayakan masyarakat itu didasari dengan Cinta ( bahasa inggrisya ‘LOVE’). Khalil
Khawari, dalam Spiritual Itelligence:
Apractical guide to personal happiness, memberikan resep untuk menyambugkan kita dengan orang
lain. Ia menyebutnya L O V E:
J L = Listen, belajarlah mendengarkan
orang lain dengan seluruh jiwa kita dan dengan sabar, sedikit saja bicara pada dirimu.
J O = Observe, Amati
isyarat-isyarat tersembunyi yang tersurat walaupun tidak tersirat, bahasa tubuh, gerak tangan, dan situasi ruang dan waktu.
J V = Value, hargaiperasaan
orang lain, kekecewaannya dan kepedihannya.
J E = Empathize, tajamkan kepekaan anda pada apa yang
dirasakan orang lain dan bagaimana merasakannya. Teori tersebut setidaknya member kita motivasi untuk saling mencintai,
agar apa yang kita lakukan tidak hambar dan bebas nilai (ber-nilai-nilai luhur).
Ada sebuah cerita yang
saya kutip, setidaknya bias mengingatkan kita akan nilai cinta. Seorang perempuan yang
mabuk kepayang kepada Allah dia itu seorang sufi bernama Rabiah Al Adawiyah. Beliau sangat luar biasa sekali. Kecintaannya kepada Allah
terpahat kuat dalam hatinya dan berkembang keseluruh tubuh dan sendi-sendinya. Cintanya kepada Allah tercermin dalam kehidupannya.
Rasa cintanya itu kadang ia ungkapkan secara indah dalam bentuk syair dan prosa. Adakalanya ia berbisik secara sembunyi, dan adakalanya ia ungkapkan dengan lantang.
Ibadah yang ia lakukan adalah sebagai ungkapan rasa cintanya.
Baginya surge atau neraka itu tidak penting dan tidak memperdulikannya. Baginya cukup dengan melihat
“wajah” Allah saja.Luar biasa dan benar-benar dahsyat. Kembali lagi padato pemberdayaan masyarakat. Memberdayakan adalah ikhtiar membangun daya yang berarti memampukan atau memandirikan,
itu tidak dilakukan dengan member sesuatu, melainkan dengan memotivasi dan mengajak untuk membangkitkan potensi yang
dimiliki. Niatan kita adalah memberdayakan masyarakat agar terlepas dari belenggu ketakberdayaan (miskin nilai) dengan ikhtiar yang baik tentunya akan terwujud kemandirian produktifitas bagi masyarakat.
Upaya memberdayakan masyarakat dengan dasar cinta hasilnya akan luar biasa, karena dengan dasar cinta, Baik fasilitator
yang bertugas (agen of change) maupun masyarakat sendiri akan bahagia.
Tetapi sebaliknya apabila tidak didasari dengan cinta maka mungkin saja virus pembodohan yang akan meracuni masyarakat usaha kita akan hambar . Mari
belajar mencintai, karena kita dating dengan cinta, Insya Allah masyarakat akan menyambut kita dengan cinta pula.
Jangan sampai usaha kita hanya menuai hasil yang Nampak dipermukaan saja.
Seorang penulis mengusulkan kata-kata mutiara yang di awal pembicaraan “loave the
peoples, go to them, learn from them,and work with them” Dan yang terakhir mengutip bahasa paulopriere, ‘Jadikan setiap orang
adalah Guru dan Jadikan setiap tempat Adalah sekolah’
WallahuA’lam.
0 Komentar untuk "MEMBERDAYAKAN DENGAN CINTA"